Cuap-Cuap Citizen
“sekolah
dimana?”
“kerja apa?”
“sekolahnya
bagus nggak?”
“kenapa
jurusan itu, dek? Kenapa gak ini?”
“kok
disana, dek?”
“anak saya
ke sekolah itu, kenapa kamu nggak?”
“kerjaannya
kok gituan, gajinya emang besar?”
Pernah nggak
sih? Kalian dibombardir sama pertanyaan semacem itu. Apalagi nih pas lagi
musim-musim pendaftaran sekolah kaya gini. Serasa pengen nyumpel kapas
sebanyak-banyaknya di kuping kan? I feel you, bruh.
Kadang aku
mikir nih, apa faedahnya sih nanya gituan? Padahal mereka secara tidak langsung
udah tau gimana kronologinya. Secara kan citizen sekarang itu budak lambe
turah, suka banget nguping pembicaraan orang lain dan mengaransemen audio yang
mereka denger menjadi lebih.. ya.. begitulah. Sialnya, saat mereka udah tau,
mereka dengan enaknya pura-pura dongok dan nanya-nanya hal yang udah mereka
tau. Just like they ask
for the ending of the movie that they have been watching. Menjengkelkan emang. Yah,
tapi gimana lagi ya? Citizen sudah dibutakan dengan rasa ingin melihat orang
lain lebih bobrok dari dirinya.
Dan
ujung-ujungnya mereka bakal banding-bandingin keadaaan kita dengan orang yang
lebih mujur diatas kita. Kaya mereka dapet kebahagiaan dengan membuat orang
lain merasa kecil dan sampah. Emang gak ada matinya sifat manusia yang kaya
gitu.
Then,
disaat kalian udah mau dengerin dan dengan sabar jawab pertanyaan mereka
satu-satu. Mereka bakalan ungkit-ungkit kejadian yang lalu untuk disalahkan. Wah, hebat ya emang citizen zaman
sekarang? Kenapa mereka semua nggak jadi
pengacara aja ya? Hm. Terheran
dari yang mengherankan.
Again and
again, manusia adalah makhluk yang berbahaya dan menyeramkan. I think they all
have a big chance to be a psychopath. Dari penuh rahasia, sampai suka liat
orang menderita. Aren’t they?
Salam Chamomile


I feel y bro
ReplyDeleteHwehehehehhe :()
Delete