27th of December 2019 : selamat datang dunia monokrom.
Didedikasikan untuk aku dari diriku sendiri.
Terima kasih sudah menjadi kuat hingga detik ini. You did well, dear!
Terima kasih sudah menjadi kuat hingga detik ini. You did well, dear!
1, 2, 3. Mulai!
Rasanya baru awal tahun kemarin aku ngerasain jadi orang yang paling beruntung di dunia ini. Tuhan memberikan aku kesempatan untuk dicintai oleh orang lain untuk yang pertama kalinya. Aku sempat berpikir jika ini adalah jawaban Tuhan atas segala doa - doa ku yang sudah ku panjatkan selama ini. Menariknya, ini pertama kalinya juga impianku kepada seseorang menjadi nyata karena akhirnya perasaanku berbalas. Aneh memang, tapi saat itu aku pikir ini emang suatu keajaiban dan mungkin memang ini saatnya untuk aku tau perasaan seperti ini. Pasti kalian sudah bisa membayangkan betapa aku sangat bersyukur tentang itu.
Oke, singkatnnya, kami berkomitmen. Nggak tau kenapa, tapi kami ngerasa cocok satu sama lain. Bahkan banyak sekali kemiripan di antara kami berdua dan untuk sekali lagi aku berpikir bahwa dia adalah orang yang Tuhan kirimkan untukku. Selama itu berjalan, banyak sekali hal yang sudah kami ceritakan satu sama lain. Mulai dari makanan favoritnya, warna favoritnya, lagu kesukaanya, bahkan masa lalunya. Aku sudah mendengar terlalu banyak darinya. Dan sejak saat itu, aku mulai mencoba menjadi orang yang pantas dan diinginkan olehnya. Dia yang terlihat begitu ideal untuk aku dan segala kekacauan di dalamku. If I could say, he can control me even when he doesn't. Aku menjadi terarah. Aku tidak jadi cerewet. Aku tidak jadi pengganggu. Bahkan aku membatasi diriku untuk mengeluh. Karena aku nggak mau dia merasa tersakiti untuk yang kedua kalinya. And, guess what? untuk kesekian kalinya, aku bersyukur atas dirinya. Tapi nyatanya, Tuhan berkata lain. Aku salah. Dari itu aku menyadari bahwa Tuhan memang paling tau isi hati hambaNya. Tuhan pencemburu, mengapa? Karena dia tidak mau kita menjadi keras seperti batu. Karena cinta kepada manusia bisa sangat menyesatkan. Iya betul, Tuhan sedang cemburu karena aku teralu banyak memikirkan dia daripada aku dan Tuhanku sendiri. Tapi, dengan mengesampingkan hal itu, aku sangat amat kecewa dengan keputusannya. Bahkan aku pikir berapa kali pun ini tidak adil. Mungkin mudah saja baginya untuk bilang seperti itu tapi jujur saja, aku sangat amat terpuruk. Aku setuju denganmu, ini benar - benar cerita sedih. Sedih sekali. Jadi, terima kasih, dongeng pengantar tidurmu sukses membuatku sulit tidur.
Tau nggak? sekarang, tiap aku bangun dari tidur, selain mengucap syukur kepada Tuhan, aku selalu berharap ini semua cuma mimpi. Tapi bukan, ini terlalu nyata. Mataku jadi lebih berair akhir akhir ini. Tapi nggak apa, ada hikmah di baliknya. Pengeluaranku untuk obat tetes mata bulan ini terselamatkan.
Jika itu bukanlah sekedar alibi maka terima kasih, sudah mau jujur. Tapi jika itu semua hanyalah omong kosong dengan alasan (sekali lagi) takut menyakitiku, selamat! Kamu sudah menyakitiku (untuk kesekian kalinya). Tapi tidak perlu terlalu bercemas hati, sampai saat ini pun aku masih mempercayaimu dan andai pun kamu berbohong lagi, aku dan keluarga juga tidak akan menyebar fitnah atau mungkin mencemarkan nama baik keluargamu. Sekaligus aku mendoakan, semoga kamu diberikan seseorang yang jauh lebih baik dari harapanmu, yang selalu menyapa di dalam solatmu, yang tidak pernah mengeluh atau mencurigaimu dan yang baik menurutmu, keluargamu dan Tuhan kita. Aamiin.
Sekali lagi, aku berterima kasih.
-salam hangat dariku dan keluarga.


Comments
Post a Comment