Pilihan Lalu Keputusan.
Assalamualaikum,
Hai, ini Dinda. Banyak orang berkata bahwa, hidup adalah tentang memilih.
Ingin warna apa? Ingin rasa apa? Ingin kemana? Suka yang bagaimana?
lihat kan?
Semua adalah pilihan.
Disaat seorang gadis kecil ayah mulai masuk ke realita kehidupan yang orang - orang bilang, itu sangat berat, dihadapkan oleh berbagai pilihan yang mungkin tak sedikit orang gagal melaluinya. Ia berpikir, apakah aku sanggup?
2 Mei 2018, hari dimana otak ini mulai berpikir, akan dikemanakan jiwa dan raga ini setelah menempuh pendidikan dasar yang melelahkan ini. Basically, aku adalah lulusan sekolah menengah atas, and mostly, mereka, teman - temanku, akan melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi, yaitu universitas. Mulai dari bimbingan belajar untuk ujian masuk uni, latihan fisik untuk memenuhi persyaratan dari sekolah tinggi, sampai sibuk mencari rumah singgah di dekat uni yang mereka impikan. Lantas, aku bagaimana?
Well, kisahnya bermula dari kebimbanganku sebagai siswa tahun terakhir di sekolah menengah atas. Rasanya seperti dihadapkan oleh ribuan bintang, tapi aku tidak memiliki satu pun pengait untuk menggapainya. Sempat ada keinginan untuk menyerah, tapi tidak ada yang tidak bisa dilakukan di dunia ini. Semuanya akan menjadi mungkin jika kita mau berusaha. Akhirnya ku putuskan untuk tidak menggapai bintang - bintang, lalu aku pergi mencari kemungkinan yang lain.
Dan disinilah aku. Menemukan tempat persinggahan pertama yang aku sebut sebagai pekerjaan. Mungkin orang - orang sering men-declare bahwa lulusan SMA harus melanjutkan ke universitas. Tapi tidak semua adat itu berjalan turun temurun kan? karena sebenarnya adat itu hanyalah sebuah opini yang dipercaya sejak dahulu kala. Ya, beginilah keputusannya. Aku disini. Berkutat di depan sebuah laptop dengan bau bekas orang merokok di dalam ruangan ber-AC bersama tiga rekan kerja ku dan satu kepala bidang di kantorku. Sunyi. Nothing can be spoken a.ka awkward. Padahal aku sebenarnya orang yang cukup extra dalam membuat sebuah obrolan agar tetap hidup. Contohnya ya seperti memberi bumbu - bumbu receh lelucon spontan aja sih. Tapi kali ini berbeda, seperti tidak ada gairah sama sekali yang mendorongku untuk membuka percakapan ini lebih jauh lagi alias hanya ber-haha-hehe aja. Lalu, oke, singkat cerita, sampai akhirnya aku tau hingga saat ini pun perasaan canggung itu masih sangat ada. But it's getting so much better now. Like what people say, time heals. Mulai terbiasa dengan orang - orangnya, keadaannya, cara bergaulnya.. dengan itu aku bisa tau gimana aku harus membangun self-defenses untuk bertahan di situasi seperti ini. Tidak terpikirkan juga, aku sudah melebur bersama lingkaran ini genap 1 tahun, dari desember 2018 sampai saat ini. Bahkan sudah bertemu dengan Perayaan hari jadi kantorku tahun ini. Hidup bisa kilat banget ya prosesnya? kaya balapan F1. hm, ngomongin soal HUT, jadi inget sesuatu. Pernah aku tulis judulnya "found you" bisa cek link ini! nanti. Barangkali mau baca. Tapi.. kayanya seru kalo aku bahas lagi di tulisan selanjutnya. Hehehe, ok then, see u around!
2 Mei 2018, hari dimana otak ini mulai berpikir, akan dikemanakan jiwa dan raga ini setelah menempuh pendidikan dasar yang melelahkan ini. Basically, aku adalah lulusan sekolah menengah atas, and mostly, mereka, teman - temanku, akan melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi, yaitu universitas. Mulai dari bimbingan belajar untuk ujian masuk uni, latihan fisik untuk memenuhi persyaratan dari sekolah tinggi, sampai sibuk mencari rumah singgah di dekat uni yang mereka impikan. Lantas, aku bagaimana?
Well, kisahnya bermula dari kebimbanganku sebagai siswa tahun terakhir di sekolah menengah atas. Rasanya seperti dihadapkan oleh ribuan bintang, tapi aku tidak memiliki satu pun pengait untuk menggapainya. Sempat ada keinginan untuk menyerah, tapi tidak ada yang tidak bisa dilakukan di dunia ini. Semuanya akan menjadi mungkin jika kita mau berusaha. Akhirnya ku putuskan untuk tidak menggapai bintang - bintang, lalu aku pergi mencari kemungkinan yang lain.
Dan disinilah aku. Menemukan tempat persinggahan pertama yang aku sebut sebagai pekerjaan. Mungkin orang - orang sering men-declare bahwa lulusan SMA harus melanjutkan ke universitas. Tapi tidak semua adat itu berjalan turun temurun kan? karena sebenarnya adat itu hanyalah sebuah opini yang dipercaya sejak dahulu kala. Ya, beginilah keputusannya. Aku disini. Berkutat di depan sebuah laptop dengan bau bekas orang merokok di dalam ruangan ber-AC bersama tiga rekan kerja ku dan satu kepala bidang di kantorku. Sunyi. Nothing can be spoken a.ka awkward. Padahal aku sebenarnya orang yang cukup extra dalam membuat sebuah obrolan agar tetap hidup. Contohnya ya seperti memberi bumbu - bumbu receh lelucon spontan aja sih. Tapi kali ini berbeda, seperti tidak ada gairah sama sekali yang mendorongku untuk membuka percakapan ini lebih jauh lagi alias hanya ber-haha-hehe aja. Lalu, oke, singkat cerita, sampai akhirnya aku tau hingga saat ini pun perasaan canggung itu masih sangat ada. But it's getting so much better now. Like what people say, time heals. Mulai terbiasa dengan orang - orangnya, keadaannya, cara bergaulnya.. dengan itu aku bisa tau gimana aku harus membangun self-defenses untuk bertahan di situasi seperti ini. Tidak terpikirkan juga, aku sudah melebur bersama lingkaran ini genap 1 tahun, dari desember 2018 sampai saat ini. Bahkan sudah bertemu dengan Perayaan hari jadi kantorku tahun ini. Hidup bisa kilat banget ya prosesnya? kaya balapan F1. hm, ngomongin soal HUT, jadi inget sesuatu. Pernah aku tulis judulnya "found you" bisa cek link ini! nanti. Barangkali mau baca. Tapi.. kayanya seru kalo aku bahas lagi di tulisan selanjutnya. Hehehe, ok then, see u around!


Comments
Post a Comment