Things that I won't say before I let u go.
Barangkali semua ini hanyalah sebuah kebetulan. Aku yang malam itu sedang membuka pintu dan kamu yang masuk ke dalam pintu itu secara cuma-cuma. Mengingat hal-hal acak yang sudah kita bagi satu sama lain saat itu, semuanya terlampau seru. Kamu yang selalu datang untuk sebuah nyanyian barang semenit dan aku yang selalu mencari playlist terbaikku untuk ku nyanyikan kepadamu. Pujian yang tidak pernah luput kamu berikan setiap kali pesan suara itu selesai diputar. Argumen-argumen kecil disela percakapan kita pun tidak semenyebalkan ini. Bahkan ketidakhadiranmu seminggu tidak mempengaruhi perasaan khawatir yang tumbuh setiap harinya. Aku ingat, saat pertama kali kita berbicara dan mendengar suaramu. Aku juga ingat bahwa aku selalu menantikan pesan darimu, tetapi kamu tidak kunjung datang. Saat itu aku sudah melepaskan harapan yang sempat aku tabung kepadamu hingga pada akhirnya kamu datang lagi. Sempat aku bertanya mengapa, kamu bilang kamu butuh waktu sendiri. Aku baru mengerti bahwa kamu tidak jauh berbeda dariku, aku bersyukur karena aku pikir hal-hal yang akan kuhadapi ke depan bersamamu akan lebih mudah. Entah sejak kapan aku mulai merasa kamu bisa diandalkan dan aku mulai membuka pintu-pintu lainnya untukmu. Barangkali karena rasa sayang yang meyakinkanku, entah barangkali aku terlalu mudah. Saat kita memutuskan untuk bersama, aku senang karena itu kamu.
Banyak hal yang dapat aku mengerti darimu tetapi tidak dengan mengetahuinya. Saat itu kamu berkata bahwa semuanya terasa biasa saja, kamu berkata bahwa kamu merasa sendirian. Aku menyesalinya dan aku meminta maaf padahal aku juga merasakan hal sepertimu. Tetapi cukup untukku, aku tau kamu akan sangat sedih jika mendengarnya dan aku tidak ingin kamu sedih. Fakta bahwa aku senang saat seseorang mengingat detil-detil kecil dari diriku saat aku banyak bercerita kepadanya adalah sebuah ekspektasi yang mungkin tidak akan bisa aku rasakan. Tetapi aku mengerti kamu, jadi aku tidak menuntut apapun bahkan untuk sekedar bercerita tentang hal-hal yang lucu bagimu. Kita pernah menjelaskan tentang bagaimana kita masing-masing, entah kamu ingat atau sudah lupa. Sejujurnya aku mengharapkan banyak hal saat itu, karena aku senang mengetahuimu lebih banyak lagi.
Aku ingin menciummu pula menyayangimu hingga aku tidak sanggup untuk melakukannya. Hanya tidak ingin merusak alurnya dan membawa malapetaka. Tetapi menginjak tepat 5184000 detik kita berbicara, entah sesuatu telah membuatnya rumpang. Sedikit, tetapi aku merasakan dengan kasat. Barangkali hanya kekhawatiran yang otakku kemas dengan penuh tanda tanya. Semakin hari pun semakin membesar, rasa khawatir, rasa takut dan juga sayang. Maka ingin sekali aku berikan sebuah perapian saat mendekapmu erat agar semakin hangat. Aku yakinkan lagi diriku setiap detik dan aku selalu kembali memaafkan segala kekacauanku denganmu. Tetapi kesadaranku berkata bahwa aku tidak akan pernah sembuh, aku pun belum berhasil menolong diriku sendiri hingga saat ini aku duduk menatap keluar jendela dekat meja kerjaku dan menatap langit-langit muram ini. Lantas bagaimana caraku menjadi rumah untukmu saat lantainya saja masih berdebu dan atapnya berlubang? Aku takut menyakitimu dan juga diriku lebih lama lagi.
i love u. i miss u either. forever.


Comments
Post a Comment