Favourite Phone Call

 
Saturday, 24th of June 2023

There ain't no sunshine, no sunshine
Where I was before
But I found the Love the warmth in your arms
Won't you come closer, let it take over
I don't need anything, I just want you
.
.
.
Aku jatuh cinta. Terima kasih, Tuhan. Aku jatuh cinta, lagi.
Betapa manisnya aku ingat obrolan 30 menit itu dikala lagu meet me in Amsterdam dari RINI diputar. Entah mengapa suaranya yang lelah itu masih saja menghangatkan hatiku. Aku tidak pernah merasakan hal seperti ini selama dalam panggilan dengan seseorang, bahkan setiap hari bersamanya terjebak dalam jaringan elektronik yang menyebalkan ini sekalipun. Ada yang berbeda dengan panggilan hari itu. Seperti bunga yang rindu akan cahaya matahari pagi, aku bermekaran. Semua di sekelilingku seolah menutup erat-erat mulutnya, meneliti setiap langkahnya atau bahkan menahan nafasnya. Because there's no voice that i heard unless his voice and i felt so mesmerized. Jika aku bisa mengatakan tentang hal-hal yang tidak masuk akal, obrolan kita malam itu terasa ajaib. Segala hal yang aku khawatirkan hari itu seolah lenyap dan menjelma menjadi bola kristal cantik yang berputar dan berpendar menemani tidurku malam itu. Aku terlelap hingga tidak bisa merasakan hembusan nafasku sendiri.
"Sudah berapa lama kita? Delapan bulan, ya?"
"Salah, tujuh!" 
"Oh iya? wah, nggak kerasa ya?..... nyaman."
"Nyaman?"
"Iya, nyaman."
Sepenggal kalimat yang bahkan aku tidak akan pernah terpikirkan akan diucapkan olehnya. Jika kulitku seputih susu mungkin wajahku akan semerah tomat hari itu. Aku berani bersumpah bahwa aku sangat ingin menangis saat dia mengatakannya. Masa bodoh dengan dia ingat atau lupa dengan apa yang sudah ia katakan sampai membuat kupu-kupu di dalam perutku kembali berterbangan dan menabrak dindingnya. Aku telah jatuh sejatuh-jatuhnya. Lirih kuucapkan sedikit doa kepada Tuhan saat itu, aku ingin selamanya. Kebahagiaan ini, keindahan ini dan orang ini, Ya Tuhan. Aku ingin selamanya.

Comments

Popular Posts