Hourglass

Butiran pasirnya terus jatuh dan mengisi ruang-ruang kosong di gelasnya. Sekarang gundukannya semakin tinggi dan bunyi nyaring dari gesekan pasir yang menabrak kaca seolah tidak hentinya mengingatkanku akan dirimu. 

Kembali ke tahun lalu, saat aku hanya iseng mengisi waktu luang yang membosankan itu dengan menyelami anonymous bot di telegram. Entah sudah berapa kali aku melewati orang-orang aneh yang sekedar hanya mencari pemuas nafsunya saja, hingga aku bertemu dengannya. Barangkali karena terlalu seru akhirnya kita saling bertukar id dan berlanjut ke chat pribadi, hanya karena takut koneksi kita terputus karena jaringan atau apapun itu. Aku sempat bertemu dengan beberapa orang lainnya selain dia, bahkan lebih seru darinya pada saat itu. Kita tidak kerap chatting satu sama lain setiap hari, bahkan aku sering ditinggalkan olehnya yang pada akhirnya membuatku lupa bahwa dia masih dalam daftar teman online chatting-ku. Mungkin jika hari itu dia tidak muncul lagi untuk menyapaku, kita tidak akan pernah sejauh ini.

Kembali ke hari dimana kamu menyapaku, lagi. Masih sama seperti hari-hari biasanya, aku duduk di depan komputer kantor dan sedang mengerjakan beberapa pekerjaan harian sampai akhirnya ada pesan masuk di telegram. He barely just called my name, "Dindaaa". Aku sempat mengingatnya lagi untuk beberapa detik karena room chat dengannya sudah ku hapus dengan asumsi bahwa dia hanyalah satu dari yang hanya sekedar bosan dan singgah. Ada sedikit rasa heran dan penasaran pada akhirnya, hingga memunculkan banyak pertanyaan di otakku. "Mengapa dia kembali? Mengapa dia tidak lupa? Mengapa aku masih di daftar chattingnya?" karena sejatinya aku adalah seseorang yang penuh dengan imajinasi dan skenario palsu. Akan tetapi, asumsiku benar-benar salah kali ini. Biasanya hal-hal yang aku pikirkan akan menjadi sebuah fakta yang pada akhirnya membuat keyakinanku semakin kuat akan hal tersebut. Tetapi, mengapa kali ini tidak? Kesadaran penuh membawaku ke realita bahwa disinilah aku harus memulai segalanya, melangkah maju, meninggalkan segala hal yang aku sesalkan di masa lalu dan kembali membuka hati. "Bagaimana jika aku coba sekali lagi?", yakinku.

Sejak saat itu, kehadirannya mulai mengisi bagian dari diriku yang rumpang sedikit demi sedikit. Atau, bisa dikatakan hidupku mulai dipenuhi olehnya. Entah ke berapa kalinya aku bersyukur bahwa dia sudah menjadi bagian dari hidupku sekarang, I'll thank my lucky stars for that day. Aku pikir Tuhan telah mendengar doaku, bahwa aku ingin memiliki kisah indah yang bisa ku ceritakan nanti saat menjadi tua, bahwa aku ingin seseorang yang mendukungku dalam hal apapun, penyabar dan memiliki frekuensi yang sama, bahwa nantinya aku ingin hidup bersama dengan lelaki sunda (it sounds funny but i don't even know that the details are so crazy to be true).

Aku senang, hanya dengan mengikuti segala proses di hidupnya. Aku senang sekali. Aku senang membantunya melewati masa-masa sulitnya. Aku senang mendengar cerita-cerita masa kecilnya, cerita-cerita lucunya dan segala impiannya. Aku senang menemaninya berjalan menyusuri jalan setapak ini, dengan segala doa yang kita panjatkan bersama, dengan segala harapan yang kita rajut untuk menggapai puncaknya. 

Setiap butir pasir yang berjatuhan menyimpan banyak sekali cerita pahit dan manis yang berpendar menjadi warna-warna yang indah saat butirannya menumpuk menjadi satu. Begitu pula cerita kita akan tetap berjalan beriringan dengan jam pasirnya. Berharap semuanya akan baik-baik saja sampai butiran terakhirnya jatuh. Aku dan dia, bersama.

Comments

Popular Posts